Kenangan Getir Korban Tragedi Mei 1998
oleh:mahdi sugantengPembukaan
Sastra bersama ilmu filsafat merupakan mother of science. Sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, di masa lampau sastra adalah milik kolektif rakyat. Rakyat mengkreasinya, memproduksinya dan dinikmati bersama-sama. Maka tak heran, karya-karya sastra lama tak memiliki pengarangnya yang jelas dan hanya dituliskan N.N. Hal ini berbeda dengan sekarang, di mana sastra terkesan sedikit jauh dengan masyarakat kebanyakan.Dalam perjalanannya, sastra (baca karya sastra) mengalami banyak perubahan dan perkembangannya, sehingga kita mengenal banyak sekali aliran dan jenis karya sastra. Untuk sekadar contoh, fiksi sains, fiksi detektif, fiksi sejarah dan masih banyak lagi, mewarnai dunia sastra. Ini merupakan konsekuensi dari semakin kompleksnya kehidupan manusia dari hari ke hari. Maka, sastra yang dipercayai sebagai sebuah bentuk refleksi sastrawan terhadap kehidupan pun ikut menjadi kompleks, sekompleks kehidupan yang menjadi sumur inspirasi utamanya.
Dalam kasus karya sastra sejarah, walau pun tak bisa dijadikan bahan rujukan utama memahami sejarah, pembaca bisa mengambil banyak pelajaran tentang sejarah dari sana. Dengan membaca Ibunda, Maxim Gorkhi misalnya, kita bisa menjadi lebih dekat dengan peristiwa Revolusi Bolsevhik. Begitu juga posisi Soru Buldog,Rintihan Burung Kedasih karya Pandir Kelana terhadap pemahaman atas masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Dalam karya-karya sastra Indonesia mutakhir, khususnya cerpen yang tersebar di banyak media di negeri ini, sastra sejarah masih banyak kita temukan. Lebih jauh lagi, saya melihat tema sastra yang diangkat adalah tema-tema besar semisal G30S, Aceh, serta kerusuhan-kerusuhan pra-reformasi negeri ini. Di sini terlihat bagaimana sastra mengambil fungsinya sebagai memoria passionis, sebuah perlawanan terhadap lupa. Cerpen Gerimis yang Sederhana karya Eka Kurniawan1 bisa dikatagorikan dalam sastra memoria passionis ini.
1 Gerimis yang Sederhana dipublikasikan di Harian Umum Kompas edisi hari Minggu, 16 Desember 2007.
Dalam tulisan ini, saya mencoba membahas cerpen Gerimis yang Sederhana dari pendekatan sosiologi sastra. Maksud penggunaan pendekatan Sosiologi Sastra adalah untuk menelusuri keterkaitan cerpen tersebut dengan peristiwa sejarah serta dampaknya sekarang terhadap subyek dan obyeknya. Pemilihan atas cerpenGerimis yang Sederhana dilandasi pada beberapa alasan. Pertama, cerpen ini termasuk karya sastra yang masih segar. Dalam pengertian baru dipublikasikan, sehingga bisa dianggap sebagai produk baru. Kedua, gaya dan sudut pandang cerpen ini yang menurut hemat saya berbeda dengan cerpen-cerpen sejenis lainnya. Sehingga, cerpen ini menarik dibaca dan tentunya menarik juga untuk dikaji.
Menengok Kembali Sejarah Getir
Cerpen Gerimis yang Sederhana tidak menjabarkan secara terperinci kapan setting waktu fiktif terjadinya cerita. Namun, dari beberapa informasi sekilas dalam cerpen ini, bisa disimpulkan bahwa setting waktunya adalah tahun 2007-2008-an.Ia terlihat agak gugup. Setelah 1998, pikirnya, ini kali pertama aku (Mei, penulis) bertemu orang dari Jakarta2.
2 Kutipan dari baris ke baris ke-2 sampai 5, paragraph dua, cerpen Gerimis yang Sederhana, Eka Kurniawan, Kompas, 16 Desember 2007, hal. 26.
Dari kutipan di atas tampak bahwa sejak tahun 1998, Efendi-lah orang pertama dari Jakarta yang berhubungan dengan Mei. Tahun 1998 merupakan sebuah ‘mitos’ umum Indonesia. Di tahun itulah terjadi reformasi dan beberapa peristiwa pra-reformasi yang cukup mendebarkan.Nama tokoh perempuan protagonist dalam cerpen ini—Mei, menyiratkan sesuatu bila kita melihat keterpautannya dengan tahun 1998, satu-satunya keterangan tahun yang diutarakan secara tersurat dalam cerpen ini. Terlepas dari Mei adalah nama seorang tokoh cerpen ini, Mei juga adalah penamaan atas sebuah bulan dalam penanggalan Romawi yang kita kenal sekarang.
“Mei” dengan pengertian di atas akan memunculkan spesifikasi waktu yang disampaikan secara tersirat bila dihubungkan dengan 1998 yakni bulan Mei tahun 1998. Mei 1998 mengingatkan pada peristiwa Tragedi Mei 1998 yang merupakan salah satu tragedi berdarah, sebuah peristiwa ‘pembantaian‘ terhadap masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa di Jakarta. Ketragisan dan kengerian peristiwa itu dapat digambarkan dari tulisan Benny G Setiono yang dikutip di bawah ini:
Tanggal 13-15 Mei 2004 ini genap enam tahun terjadinya tragedi yang telah merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Tionghoa. Tiga belas pasar, 2.479 ruko,40 mall,1.604 toko,45 bengkel,387 kantor, 9 SPBU, 8 bus dan kendaraan umum lainnya, 1.119 mobil, 821 sepeda motor dan 1.026 rumah tinggal habis dijarah, dirusak dan dibakar selama berlangsungnya aksi anarkhis tersebut.
Yang paling menyedihkan, dalam tragedi itu terjadi perkosaan massal terhadap puluhan kalau bukan ratusan perempuan Tionghoa yang dilakukan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar